I PUTU JUNIARTHA SEMARA PUTRA

xpresikan aksimu


Tinggalkan komentar

PENGUMUMAN KELULUSAN ADMINISTRASI PELAMAR UMUM CPNS TAHUN 2014

Originally posted on :

P E N G U M U M A N

  NOMOR : 800 / 3020 / BKD

 TENTANG

 KELULUSAN SELEKSI ADMINISTRASI PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL

PEMERINTAH KABUPATEN KARANGASEM

TAHUN 2014

  1. Dengan ini diumumkan hasil seleksi Administrasi Calon Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Karangasem Tahun 2014 yang dinyatakan lulus seleksi administrasi, sebagaimana terlampir.

  1. Kartu Tanda Peserta Ujian dapat diambil pada tanggal 23 s/d 24 Oktober 2014.

  1. Kartu Tanda Peserta Ujian bisa diambil dengan menunjukkan Tanda Bukti Pendaftaran CPNS 2014 (registrasi online)dan Tanda Terima Berkas.
  • Pada Tanda Terima Berkas (kiri bawah) terdapat kotak kosong ditulis NO URUTPENGAMBILAN KARTU UJIAN, sesuai yang tercantum dalam lampiran pengumuman ini.

  1. Bagi pelamar yang dinyatakan Lulus Seleksi Administrasi, dapat mengikuti Tes Kemampuan Dasar (TKD), Waktu dan lokasi/tempat ujian akan diinformasikan kemudian melalui website : bkd.karangasem.wordpress.com dan papan pengumuman BKD Kabupaten Karangasem.

  1. Untuk hasil seleksi Administrasi yang dinyatakan lulus…

View original 313 more words


Tinggalkan komentar

Konsep dasar Keperawatan Medikal Bedah

Originally posted on irh4mgokilz:

KONSEP DASAR KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Lingkup praktek keperawatan  medikal-bedah merupakan bentuk asuhan keperawatan pada klien dewasa yang mengalami gangguan fisiologis baik yang sudah nyata atau terprediksi mengalami gangguan baik karena adanya penyakit, trauma atau kecacatan. Asuhan keperawatan meliputi perlakuan terhadap individu untuk memperoleh kenyamanan; membantu individu dalam meningkatkan dan mempertahankan kondisi sehatnya; melakukan prevensi, deteksi dan mengatasi kondisi berkaitan dengan penyakit ; mengupayakan pemulihan sampai kliendapat mencapai kapasitas produktif tertingginya; serta membantu klien menghadapi kematian secara bermartabat.

Praktek keperawatan medikal bedah menggunakan langkah-langkah ilmiah pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi; dengan memperhitungkan keterkaitan komponen-komponen bio-psiko-sosial klien dalam merespon gangguan fisiologis sebagai akibat penyakit, trauma atau kecacatan.

LINGKUP KLIEN

Klien yang ditangani dalam praktek keperawatan medikal bedah adalah orang dewasa, dengan pendekatan “one-to-one basis”. Kategori “dewasa” berimplikasi pada peerkembangan yang dijalani sesuai tahapannya. Tugas-tugas perkembangan ini dapat berdampak pada perubahan peran dan respon psikososial selama klien mengalami masalah kesehatan, dan hal…

View original 375 more words


Tinggalkan komentar

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA PASIEN DENGAN PERILAKU KEKERASAN (PK)

Juniartha Semara Putra
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA PASIEN DENGAN PERILAKU KEKERASAN (PK)
A.    PENGERTIAN PERILAKU KEKERASAN
     Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif. (Stuart dan Sundeen, 1995).Perilaku kekerasan sukar diprediksi. Setiap orang dapat bertindak keraas tetapi ada kelompok tertentu yang memiliki risiko tinggi yaitu pria berusia 15 – 25 tahun, orang kota, kulit hitam, atau subgroup dengan budaya kekerasan, peminum alcohol (Tomb, 2003 dalam Purba, dkk, 2008). Perilaku kekerasan adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut (Purba dkk. 2008).Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain (Yosep, 2007, hal. 146).Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Depkes, RI, 2000)Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Berkowitz, 1993).Sedangkan menurut Carpenito 2000, perilaku kekerasan adalah keadaan dimana individu – individu berisiko menimbulkan bahaya langsung pada dirinya sendiri maupun orang lain.
B.     ETIOLOGI
      Perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya gangguan harga diri, meliputi :
a.       Harga diri rendah
      Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.
b.      Frustasi
      Seseorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan / keinginan yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa terancam dan cemas. Jika ia tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa mengendalikan orang lain dan keadaan sekitarnya misalnya dengan kekerasan.
c.       Hilangnya harga diri
      Pada dasarnya manusia itu mempunyai kebutuhan yang sama untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akibatnya individu tersebut mungkin akan merasa rendah diri, tidak berani bertindak, lekas tersinggung, lekas marah, dan sebagainya.
C.    FAKTOR – FAKTOR YANG MENYEBABKAN PERILAKU KEKERASAN
A.    Faktor Predisposisi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku kekerasan menurut teori biologic, teori psikologi, dan teori sosiokultural yang dijelaskan oleh Toswend (1996 dalam Purba dkk, 2008) adalah :
1.      Teori Biologik
Teori biologic terdiri dari beberapa pandangan yang berpengaruh terhadap perilaku, diantaranya :
a.       Neurobiologik
Ada 3 area pada otak yang berpengaruh terhadap proses impuls agresif, system limbic, lobus frontal dan hypothalamus. Neurotransmitter juga mempunyai peranan dalam memfasilitasi atau menghambat proses impuls agresif. System limbic merupakan system informasi, ekspresi, perilaku, dan memori. Apabila ada gangguan pada system ini maka akan meningkatkan atau menurunkan potensial perilaku kekerasan. Adanya gangguan pada lobus frontal maka individu tidak mampu membuat keputusan, kerusakan pada penilaian, perilaku tidak sesuai, dan agresif. Beragam komponen dari system neurologis mempunyai implikasi memfasilitasi dan menghambat impils agresif. System limbic terlambat dalam menstimulasi timbulnya perilaku agresif. Pusat otak atas secara konstan berinteraksi dengan pusat agresif.
b.      Biokimia
Berbagai neurotransmitter (epinephrine, norepinephrine, dopamine, asetilkolin, dan serotonin) sangat berperan dalam memfasilitasi atau menghambat impuls agresif. Teori ini sangat konsisten dengan fight atau flight yang dikenal oleh Selye dalam teorinya tentang respon terhadap stress.
c.       Genetik
Penelitian membuktikan adanya hubungan langsung antara perilaku agresif dengan genetic karyotype XYY.
d.      Gangguan Otak
Sidroma otak organic terbukti sebagai faktor predisposisi perilaku agresif dan tindak kekerasan. Tumor otak, khususnya yang menyerang system limbic dan lobus temporal; trauma otak; yang menimbulkan perubahan serebral; dan penyakit seperti ensefalitis, dan epilepsy, khususnya lobus temporal, terbukti berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak kekerasan.
2.      Teori Psikologi
a.       Teori Psikoanalitik
Teori ini menjelaskan tidak terpenuhinya kebutuhan untuk mendapatkan kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak berkembangnya ego dan membuat konsep diri rendah. Agresi dan tindak kekerasan memberikan kekuatan dan prestise yang dapat meningkatkan citra diri dan memberikan arti dalam kehidupannya. Perilaku agresif dan perilaku kekerasan merupakan pengungkapan secara terbuka terhadap rasa ketidakberdayaan dan rendahnya harga diri.
b.      Teori pembelajaran
Anak belajar melalui perilaku meniru dari contoh peran mereka, biasanya orang tua mereka sendiri. Contoh peran tersebut ditiru karena dipersepsikan sebagai prestise atau berpengaruh, atau jika perilaku tersebut diikuti dengan ujian yang positif. Anak memilki persepsi ideal tentang orang tua mereka selama tahap perkembangan awal. Namun, dengan perkembangan yang di alaminya, mereka mulai meniru pola perilaku guru, teman, dan orang lain. Individu yang dianiaya ketika masih kanak-kanak atau mempunyai orang tua yang mendisiplinkan anak mereka dengan hukuman fisik akan cenderung untuk berperilaku kekerasan setelah dewasa.
3.      Teori Sosiokultural
Pakar sosiolog lebih menekankan pengaruh faktor budaya dan struktur sosial terhadap perilaku agresif. Ada kelompok sosial yang secara menerima perilaku kekerasan sebagai cara untuk menyelesaikan masalahnya. Masyarakat juga berpengaruh pada perilaku tindak kekerasan apabila individu menyadari bahwa kebutuhan dan keinginan mereka tidak dapat terpenuhi secara konstruktif. Penduduk yang ramai / padat dan lingkungan yang ribut dapat berisiko untuk perilaku kekerasan. Adanya keterbatasan sosial dapat menimbulkan kekerasan dalam hidup individu.
B.     Faktor Presipitasi
            Faktor – faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan sering kali berkaitan dengan ( Yosep, 2009) :
1.      Ekspresi diri, ingin menunjukkan eksistensi diri atau symbol solidaritas seperti dalam sebuah konser, menonton sepak bola, geng sekolah, perkelahian masal, dan sebagainya.
2.      Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial ekonomi.
3.      Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta tidak membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung melakukan kekerasan dalam menyelesaikan konflik.
4.      Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuan dirinya sebagai seseorang yang dewasa.
5.      Adanya riwayat perilaku antisocial meliputi penyalahgunaan obat dan alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat menghadapi rasa frustasi.
6.      Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan, perubahan tahap perkembangan, atau perubahan tahap perkembangan keluarga.
D.    TANDA DAN GEJALA
Yosep (2009) mengemukakan bahwa tanda dan gejala perilaku kekerasan adalah sebagai berikut :
1.      Fisik
a.       Muka merah
b.      Pandangan tajam
c.       Otot tegang
d.      Nada suara tinggi
e.       Berdebat dan sering pula tampak klien memaksakan kehendak
f.       Memukul jika tidak senang
2.      Verbal
a.       Bicara kasar
b.      Suara tinggi, membentak atau berteriak
c.       Mengancam secara verbal atau fisik
d.      Mengumpat dengan kata – kata kotor
e.       Suara keras
f.       Ketus
3.      Perilaku
a.       Melempar atau memukul benda / orang lain
b.      Menyerang orang lain
c.       Melukai diri sendiri / orang lain
d.      Merusak lingkungan
e.       Amuk / agresif
4.      Emosi
a.       Tidak adequat
b.      Tidak aman dan nyaman
c.       Rasa terganggu, dendam dan jengkel
d.      Tidak berdaya
e.       Bermusuhan
f.       Mengamuk, ingin berkelahi
g.      Menyalahkan dan menuntut
5.      Intelektual
Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, sarkasme
6.      Spiritual
Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, mengkritik pendapat orang lain, menyinggung perasaan orang lain, menyinggung perasaan orang lain, tidak perduli dan kasar
7.      Sosial
Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, sindiran
8.      Perhatian
Bolos, mencuri, melarikan diri
E.     POHON MASALAH
Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
<!–[if gte vml 1]>

Perilaku Kekerasan / amuk

<![endif]–>  

Gangguan Harga Diri : Harga Diri Rendah
( Budiana Keliat, 1999)
F.     AKIBAT DARI PERILAKU KEKERASAN
Klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan risiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Risiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai / membahayakan diri, orang lain dan lingkungan. Beberapa tanda – tanda yang dapat kita amati sebagai akibat dari perilaku kekerasan, diantaranya memperlihatkan permusuhan, mendekati orang lain dengan ancaman, memberikan kata – kata ancaman dengan rencana melukai, menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan, mempunyai rencana untuk melukai.
E.     ASUHAN KEPERAWATAN
  1. Pengkajian 
a.       Aspek biologis
Respons fisiologis timbul karena kegiatan system saraf otonom bereaksi terhadap sekresi epineprin sehingga tekanan darah meningkat, tachikardi, muka merah, pupil melebar, pengeluaran urine meningkat. Ada gejala yang sama dengan kecemasan seperti meningkatnya kewaspadaan, ketegangan otot seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh kaku, dan refleks cepat. Hal ini disebabkan oleh energi yang dikeluarkan saat marah bertambah.
b.      Aspek emosional
Individu yang marah merasa tidak nyaman, merasa tidak berdaya, jengkel, frustasi, dendam, ingin memukul orang lain, mengamuk, bermusuhan dan sakit hati, menyalahkan dan menuntut.
c.       Aspek intelektual
Sebagian besar pengalaman hidup individu didapatkan melalui proses intelektual, peran panca indra sangat penting untuk beradaptasi dengan lingkungan yang selanjutnya diolah dalam proses intelektual sebagai suatu pengalaman. Perawat perlu mengkaji cara klien marah, mengidentifikasi penyebab kemarahan, bagaimana informasi diproses, diklarifikasi, dan diintegrasikan.
d.      Aspek sosial
Meliputi interaksi sosial, budaya, konsep rasa percaya dan ketergantungan. Emosi marah sering merangsang kemarahan orang lain. Klien seringkali menyalurkan kemarahan dengan mengkritik tingkah laku yang lain sehingga orang lain merasa sakit hati dengan mengucapkan kata-kata kasar yang berlebihan disertai suara keras. Proses tersebut dapat mengasingkan individu sendiri, menjauhkan diri dari orang lain, menolak mengikuti aturan.
e.       Aspek spiritual
Kepercayaan, nilai dan moral mempengaruhi hubungan individu dengan lingkungan. Hal yang bertentangan dengan norma yang dimiliki dapat menimbulkan kemarahan yang dimanifestasikan dengan amoral dan rasa tidak berdosa.
  1. Diagnosa Keperawatan
a.       Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan / amuk.
·         Data subjektif : klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain, ingin membunuh, ingin membakar atau mengacak – acak lingkungannya.
·         Data objektif : klien mengamuk, merusak dan melempar barang-barang, melakukan tindakan kekerasan pada orang-orang disekitarnya.
b.      Perilaku kekerasan / amuk dengan gangguan harga diri: harga diri rendah.
·         Data subjektif : klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang, klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah, riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
·         Data objektif : mata merah, wajah agak merah, nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai, ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam, merusak dan melempar barang – barang.
  1. Intervensi Keperawatan
a.       Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan / amuk.
Tujuan Umum :
·         Klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungannya
Tujuan Khusus :
a.       Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Tindakan :
1.      Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama perawat dan jelaskan tujuan interaksi.
2.      Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.
3.      Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.
4.      Jelaskan tentang kontrak yang akan dibuat.
5.      Beri rasa aman dan sikap empati.
6.      Lakukan kontak singkat tapi sering.
b.      Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
Tindakan :
1.      Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.
2.      Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal.
3.      Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap tenang.
c.       Klien dapat mengidentifikasi tanda tanda perilaku kekerasan.
Tindakan :
1.      Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat jengkel / kesal.
2.      Observasi tanda perilaku kekerasan.
3.      Simpulkan bersama klien tanda tanda jengkel / kesal yang dialami klien.
d.      Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
Tindakan :
1.      Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
2.      Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
3.      Tanyakan apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai
e.       Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
Tindakan :
1.      Bicarakan akibat / kerugian dari cara yang dilakukan.
2.      Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.
3.      Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat.
f.       Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.
Tindakan :
1.      Tanyakan kepada klien apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat
2.      Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.
3.      Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat.
·         Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal, berolah raga, memukul bantal / kasur atau pekerjaan yang memerlukan tenaga.
·         Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal / tersinggung.
·         Secara sosial : lakukan dalam kelompok cara – cara marah yang sehat, latihan asertif, latihan manajemen perilaku kekerasan.
·         Secara spiritual : berdoa, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi kesabaran.
g.      Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.
Tindakan :
1.      Bantu memilih cara yang paling tepat.
2.      Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.
3.      Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.
4.      Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi.
5.      Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah.
h.      Klien mendapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol perilaku kekerasan.
Tindakan :
1.      Identifikasi kemampuan keluarga merawat klien dari sikap apa yang telah dilakukan keluarga selama ini.
2.      Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat klien.
3.      Jelaskan cara – cara merawat klien
i.        Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).
Tindakan :
1.      Jelaskan jenis – jenis obat yang diminum klien pada klien dan keluarga.
2.      Diskusikan manfaat minum obat dan kerugian berhenti minum obat tanpa seizin dokter.
3.      Jelaskan prinsip 5 benar minum obat (nama klien, obat, dosis, cara dan waktu).
4.      Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
5.      Anjurkan klien melaporkan pada perawat / dokter jika merasakan efek yang tidak menyenangkan.
6.      Beri pujian jika klien minum obat dengan benar.
b.      Perilaku kekerasan berhubungan dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah.
Tujuan Umum :
·         Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
                  Tujuan khusus :
a.       Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
Tindakan :
1.       Bina hubungan saling percaya,
2.       Beri kesempatan pada klien mengungkapkan perasaannya.
3.       Sediakan waktu untuk mendengarkan klien.
4.       Katakan kepada klien bahwa ia adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri.
    1. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
Tindakan :
1.       Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
2.       Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif
3.       Utamakan memberi pujian yang realistis.
c.       Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.
Tindakan :
1.       Diskusikan bersama klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit
2.       Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah.
    1. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.
Tindakan :
1.       Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan ( mandiri, bantuan sebagian, bantuan total ).
2.       Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
3.       Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.
    1. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuannya
Tindakan :
1.       Beri kesempatan klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.
2.       Beri pujian atas keberhasilan klien.
3.       Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
    1. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.
Tindakan :
1.       Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah.
2.       Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.
3.       Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
4.       Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga
g.      Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).
Tindakan :
1.      Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping).
2.      Bantu klien mengpnakan obat dengan prinsip 5 benar (nama klien, obat, dosis, cara dan waktu).
3.      Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
4.      Implementasi
Implementasi dilaksanakan sesuai dengan intervensi keperawatan yang telah disusun.
5.      Evaluasi
Evaluasi hasil sesuai dengan kriteria hasil / outcome.
DAFTAR PUSTAKA
Catur, Antonius. 2010. Perilaku Kekerasan. Availlable  : http://blogs.unpad.ac.id/antoniuscatur/files/2010/04/kekerasan.pdf. (acessed : 5 Maret 2013).
Harnawati. 2008. Askep Perilaku Kekerasan. Availlable : http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/27/askep-perilaku-kekerasan/. (accessed : 5 Maret 2013).
Keliat, Budi Ana. 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 2. Jakarta : EGC.
Keliat, Budi Ana. 1999. Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri. Edisi 3, Jakarta : EGC.
Scribd. 2010. Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Perilaku Kekerasan. Availlable : http://www.scribd.com/doc/76134074/Asuhan-Keperawatan-Pasien-Dengan-Perilaku-Kekerasan. (acessed : 5 Maret 2013).

Stuart, Gail W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta : EGC.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.