I PUTU JUNIARTHA SEMARA PUTRA

xpresikan aksimu

BUDAYA SUKU SASAK DENGAN KESEHATAN

Tinggalkan komentar

Juniartha Semara Putra

BAB I
PENDAHULUAN
1.1       KEBUDAYAAN SUKU SASAK
Indonesia adalah negara yang kaya dengan beragam suku dan budaya, yaitu sekitar 300 suku bangsa. Setiap suku memiliki keunikan masing-masing. Diantara suku – suku diatas, disini kita akan membahas tentang Suku Sasak yang hidup di Pulau Lombok yang tinggal di dusun Sade, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Sekitar 80% penduduk pulau ini diduduki oleh Suku Sasak dan selebihnya adalah suku lainnya, seperti Suku  Mbojo (Bima), Dompu, Samawa (Sumbawa), Jawa dan Hindu (Bali Lombok). Suku Sasak adalah suku terbesar di Propinsi yang berada di antara Bali dan Nusa Tenggara Timur. Suku Sasak masih dekat dengan suku bangsa Bali, tetapi suku ini sebagian besar memeluk agama Islam.
Umumnya, kepala keluarga suku ini bekerja sebagai petani, sedangkan kaum wanitanya memiliki sambilan sebagai penenun kain. Hasil Tenunan dipajang di teras rumah atau di gazebo yang ada di sekitar rumah. Para wisatawan bisa berkeliling menyusuri lorong kecil dari rumah ke rumah untuk melihat hasil tenun sambil melihat rumah adat suku Sasak yang disebut bale tani. Keunikan dari rumah adat suku Sasak adalah lantai yang dibuat dari campuran tanah liat, kotoran kerbau, dan kulit padi. Menurut mereka, campuran tersebut lebih kokoh dibandingkan semen biasa dan memiliki arti tersendiri. Tanah menggambarkan dari mana manusia berasal. Sedangkan kotoran kerbau menggambarkan kehidupan mereka sebagai petani yang sangat memerlukan kerbau untuk membajak sawah. Dari Pemaparan diatas, nampak jelas terlihat banyak sekali hal yang perlu kita ketahui secara mendalam tentang Suku Sasak, sehingga dapat memperluas khasanah keilmuan dan untuk lebih memahami bahwa indonesia mempunyai berbagai suku dan adat istiadat masing-masing sehingga kita mempunyai bekal untuk manentukan sikap dan jalan apa yang paling tepat untuk menyikapinya.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1       KONSEP TRANSCULTURE
Transcultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada
proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan
kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan
pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan
untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya
kepada manusia (Leininger, 2002). Perawatan transkultural adalah berkaitan dengan praktik budaya yang ditujukan untuk pemujaan dan pengobatan rakyat (tradisional). Caring practices adalah kegiatan perlindungan dan bantuan yang berkaitan dengan kesehatan. Menurut Dr.Madelaine Leininger, studi praktik pelayanan kesehatan transkultural adalah berfungsi untuk meningkatkan pemahaman atas tingkah laku manusia dalam kaitan dengan kesehatannya. Dengan mengidentifikasi praktik kesehatan dalam berbagai budaya ( kultur ), baik di masa lampau maupun zaman sekarang akan terkumpul persamaan – persamaan. Leininger berpendapat, kombinasi pengetahuan tentang pola praktik transkultural dengan kemajuan teknologi dapat menyebabkan makin sempurnanya pelayanan perawatan dan kesehatan orang banyak dan berbagai kultur.
Kazier Barabara (1983) dalam bukuya yang berjudul Fundamentals of Nursing Concept and Procedures mengatakan bahwa konsep keperawatan adalah tindakan perawatan yang merupakan konfigurasi dari ilmu kesehatan dan seni merawat yang meliputi pengetahuan ilmu humanistik, filosofi perawatan, praktik klinis keperawatan, komunikasi dan ilmu sosial. Konsep ini ingin memberikan penegasan bahwa sifat seorang manusia yang menjadi target pelayanan dalam perawatan adalah bersifat bio – psiko – sosial – spiritual. Oleh karenanya, tindakan perawatan harus didasarkan pada tindakan yang komprehensif sekaligus holistik.
Budaya merupakan salah satu dari perwujudan atau bentuk interaksi yang nyata sebagai manusia yang bersifat sosial. Budaya yang berupa norma , adat istiadat menjadi acuan perilaku manusia dalam kehidupan dengan yang lain . Pola kehidupan yang berlangsung lama dalam suatu tempat , selalu diulangi , membuat manusia terikat dalam proses yang dijalaninya . Keberlangsungaan terus – menerus dan lama merupakan proses internalisasi dari suatu nilai – nilai yang mempengaruhi pembentukan karakter , pola pikir , pola interaksi perilaku yang kesemuanya itu akan mempunyai pengaruh pada pendekatan intervensi keperawatan (cultural nursing approach).
·         Peran dan Fungsi Transcultural Nursing
Budaya mempunyai pengaruh luas terhadap kehidupan individu. Oleh sebab itu, penting bagi perawat mengenal latar belakang budaya orang yang dirawat (Pasien). Misalnya kebiasaan hidup sehari – hari, seperti tidur, makan, kebersihan diri, pekerjaan, pergaulan sosial, praktik kesehatan, pendidikan anak, ekspresi perasaan, hubungan kekeluargaaan, peranan masing – masing orang menurut umur. Kultur juga terbagi dalam sub – kultur . Subkultur adalah kelompok pada suatu kultur yang tidak seluruhnya menganut pandangan kelompok kultur yang lebih besar atau memberi makna yang berbeda. Kebiasaan hidup juga saling berkaitan dengan kebiasaan.
Nilai – nilai budaya Timur, menyebabkan sulitnya wanita yang hamil mendapat pelayanan dari dokter pria. Dalam beberapa setting, lebih mudah menerima pelayanan kesehatan pre-natal dari dokter wanita dan bidan. Hal ini menunjukkan bahwa budaya Timur masih kental dengan hal–hal yang dianggap tabu.
Dalam tahun – tahun terakhir ini, makin ditekankan pentingnya pengaruh kultur terhadap pelayanan perawatan. Perawatan Transkultural merupakan bidang yang relative baru; ia berfokus pada studi perbandingan nilai – nilai dan praktik budaya tentang kesehatan dan hubungannya dengan perawatannya. Leininger ( 1991 ) mengatakan bahwa transcultural nursing merupakan suatu area kajian ilmiah yang berkaitan dengan perbedaan maupun kesamaan nilai – nilai budaya ( nilai budaya yang berbeda ras, yang mempengaruhi pada seseorang perawat saat melakukan asuhan keperawatan kepada pasien.
2.2       BUDAYA SUKU SASAK DAN PENGARUHNYA TERHADAP KESEHATAN
  1. BANGUNAN SUKU SASAK
Dari segi bangunan Masyarakat Sasak di Dusun Sade masih menggunakan bangunan asli dari jaman dahulu, meski sekitar Desa Sade sudah termasuk modern. Atap bangunan menggunakan ilalang yang telah disusun sedemikian rupa. Sehingga meski hujan lebat air tetap tidak bisa masuk ke dalam rumah. Ruangan di dalam rumah adat Sasak sendiri dipisahkan oleh 2 – 3 anak tangga yang menghubungkan ruangan bagian depan dan belakang. . Hanya ada satu pintu unuk masuk dan keluar, rumah tersebut juga tidak memiliki jendela. Lantai berupa tanah liat, sebagian memang sudah menggunakan semen. Yang Unik adalah lantai tanah liat dalam beberapa waktu sekali di pel menggunakan kotoran kerbau.
II.     BUDAYA ADAT
1.   Upacara Rebo
Dimaksudkan untuk menolak bala (bencana/penyakit), dilaksanakan setiap tahun sekali tepat pada hari Rabu minggu terakhir bulan Safar. Menurut kepercayaan masyarakat Sasak bahwa pada hari Rebo Bontong adalah merupakan puncak terjadi Bala (bencana/penyakit), sehingga sampai sekarang masih dipercaya untuk memulai suatu pekerjaan tidak diawali pada hari Rebo Bontong. Rebo Bontong ini mengandung arti Rebo dan Bontong yang berarti putus sehingga bila diberi awalan pe menjadi pemutus. Upacara Rebo Bontong ini sampai sekarang masih tetap dilaksanakan oleh masyarakat di Kecamatan Pringgabaya.
2.   Periseian
Adalah kesenian bela yang sudah ada sejak jaman kerajaan-kerajaan di Lombok, awalnya adalah semacam latihan pedang dan perisai sebelum berangkat ke medan pertempuran. Pada perkembangannya hingga kini senjata yang dipakai berupa sebilah rotan dengan lapisan aspal dan pecahan kaca yang dihaluskan, sedangkan perisai (Ende) terbuat dari kulit lembu atau kerbau. Setiap pemainnya/pepadu dilengkapi dengan ikat kepala dan kain panjang. Kesenian ini tak lepas dari upacara ritual dan musik yang membangkitkan semangat untuk berperang. Pertandingan akan dihentikan jika salah satu pepadu mengeluarkan darah atau dihentikan oleh juri. Walaupun perkelahian cukup seru bahkan tak jarang terjadi cidera hingga mengucurkan darah didalam arena. Tetapi diluar arena sebagai pepadu yang menjunjung tinggi sportifitas tidak ada dendam diantara mereka
III.    UPACARA ADAT
Masyarakat Sasak menyelenggarakan beberapa upacara yang berhubungan dengan daur / lingkaran hidup (life cycle) manusia dimulai dari peristiwa kelahiran hingga kematian.
·      Kelahiran
Wanita Sasak apabila hendak melahirkan, maka suaminya segera mencari be lianyang merupakan orang yang mengetahui seluk beluk pristiwa tersebut. Dalam melahirkan anaknya, calon ibu mengalami kesulitan maka be lian menafsirkan hal tersebut sebagai akibat tingkah laku sang ibu sebelum hamil. Hal tersebut biasanya ditafsirkan akibat berlaku kasar terhadap ibu atau suaminya. Untuk itu diadakan upacara, seperti menginjak ubun-ubun, meminum air bekas cuci tangan, dan sebagainya yang kesemuanya tadi dimaksudkan agar mempercepat kelahiran sang bayi. Sesudah lahir, maka ari – ari diperlakukan sama seperti orang memperlakukan sang bayi, karena menurut mereka ari – ari merupakan saudara bayi, yang oleh orang Lombok disebut adi kaka berarti bayi dan ari – arinya adalah adik – kakak. Oleh sebab itu,  ari – ari mendapat perawatan khusus, setelah dibersihkan lalu dimasukkan ke dalam periuk atau kelapa setengah tua yang sudah dibuang airnya. Kemudian ditanam di muka tirisan rumah dengan diberi tanda gundukan tanah seperti kuburan serta batu nisan dari bambu kecil dan diletakkan lekesan pada tempat tersebut.
·         Menjelang dewasa
Menjelang dewasa, anak laki-laki harus menjalani suatu upacara untuk mengantarkan kedewasaannya. Upacara tersebut adalah bersunat atau berkhitan (nyunatang) yang merupakan hal yang wajib dilakukan oleh pemeluk Islam. Pada upacara ini dilakukan naglu’ ai’, padakemali mata air denagn diiringi gamelan serta menggunakan pakaian adat. Air yang diambil dari kemali kemudian dikelilingi sembilan kali di tempat paosenli atau berupa pajangan. Air tersebut digendong oleh seorang wanita yang dipayungi. Setelah itu air diserahkan kepada inen beru.
Anak yang dikhitan biasanya harus berendam terlebih dahulu. Waktu pergi serta pulang berendam diirngi dengan gamelan serta diusung di atas juli yang disebut peraja. Khitan dilaksanakan oleh dukun sunat yang disebut tukang sunat. Selain upacara di atas, bagi seorang yang menjelang dewasa, juga dilakukan upacara potong gigi yang pelaksanaannya biasa bersamaan dengan upacara lain, seperti bersunat dan perkawinan. Upacara potong gigi disebut juga rosoh oleh suku Sasak. Hanya saja upacara ini jarang dilakukan.
2.3       PENYAKIT YANG TIMBUL AKIBAT BUDAYA SUKU SASAK
Terkait budaya Masyarakat Suku Sasak yang melapisi rumah mereka dengan kotoran sapi dan kerbau, maka secara tidak langsung penyakit yang mungkin timbul dari kebiasaan ini antara lain, diare, cacingan, gatal – gatal, sesak napas, keracunan yang diakibatkan dari gas metana yang dihasilkan oleh kotoran sapi dan kerbau. Seperti yang kita ketahui, kotoran hewan, khususnya sapi dan kerbau mengandung cacing pita (taenia solium dan taenia saginata) sehingga tidak menutup kemungkinan masyarakat tersebut menderita penyakit cacingan.
Pada tradisi pemberian nasi papah, yaitu nasi papah juga dapat menjadi media penyebaran penyakit antara si ibu dengan bayi, dimana jika seorang ibu menderita penyakit-penyakit infeksi menular tertentu yang berhubungan dengan gigi dan mulut serta pernapasan maka akan sangat mudah untuk ditularkan pada bayinya. Misalnya Tuberculosis. Dari segi kebersihan dan keamanan pangan nasi papah masih perlu dipertanyakan juga, karena anak bisa tertular penyakit yang diderita ibu melalui air liur, sedangkan dari segi kuantitas dan kualitas nilai gizi jelas merugikan bayi, karena ibu-ibu akan mendapatkan sari makanan sedangkan bayinya akan mendapatkan ampasnya.
BAB III
KASUS DAN PEMECAHAN MASALAH
·         Kasus I
      Di Kabupaten Lombok Timur angka pemberian ASI Eksklusif berdasarkan laporan tahunan dinas kesehatan masih sangat rendah, yaitu sekitar 13%, bahkan dalam Survey PHBS 2007 menunjukkan cakupan pemberian ASI Eksklusif sebesar 10%. Banyak faktor yang mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif tersebut seperti karena ibu bekerja, pengaruh iklan, dorongan dari keluarga dan pengaruh tenaga dan sarana kesehatan. Namun diantara beberapa faktor tersebut ada kebiasaan yang kurang baik yang masih menjadi budaya masyarakat sekitar yaitu membuang ASI pertama yang keluar (colostrum) dan memberikan makanan sebelum waktunya kepada bayi dalam bentuk nasi papah. Nasi papah masih menjadi permasalahan yang sulit diatasi apalagi dalam upaya meningkatkan cakupan pemberian ASI Eksklusif di Kabupaten Lombok Timur. Oleh karena itu perlu dirancang strategi promosi kesehatan yang dapat diterima oleh masyarakat sekitar tentang kerugian pemberian nasi papah tersebut.
Sangat sedikit literatur yang menjelaskan kapan nasi papah itu mulai diberikan, bahkan kalau kita menanyakan pada nenek – nenek kita di kampung mengatakan bahwa kamu besar juga karena dulu diberikan nasi papah dan kenyataannya kamu bisa hidup dan sukses seperti saat ini. Jadi disini dapat dijelaskan bahwa praktik pemberian nasi papah tersebut sudah berlangsung sangat lama dan diteruskan secara turun temurun. Sebagian ibu – ibu percaya bahwa anak – anak memerlukan makanan untuk dapat tumbuh dan berkembang. Untuk itu diperlukan makanan yang tersedia setiap saat dan tidak membahayakan kesehatannya baik dari segi ukuran maupun teksturnya. Indikator yang dapat dilihat untuk menentukan kekenyangan seorang bayi adalah apabila dia terus menerus menangis walaupun sudah diberikan ASI. Untuk memenuhi kebutuhan bayi maka ibu – ibu atau nenek akan memberikan berbagai jenis makanan mulai dari madu, pisang, bubur dan lain sebagainya. Namun masih ada sebagian masyarakat yang tinggal di daerah – daerah tertentu masih menerapakan kebiasaan memberikan nasi papah kepada bayinya. Nasi papah adalah nasi yang dikunyah terlebih dahulu sebelum diberikan kepada bayinya. Bahkan ada yang sengaja menyimpan untuk beberapa kali pemberian makanan. Kebiasaan memberikan makanan kepada bayi berupa nasi papah didapatkan secara turun temurun, dan ini merupakan bentuk kearifan lokal tentang hubungan kasih sayang antara ibu dan bayinya.
Sebagian besar para ahli sepakat bahwa makanan terbaik bagi bayi adalah air susu ibu karena mengandung zat gizi yang lengkap bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi khususnya sampai berumur 6 bulan, dan setelah itu baru diberikan makanan tambahan berupa makanan pendamping sesuai umurnya. Air Susu Ibu juga memiliki banyak kelebihan selain yang disebutkan di atas seperti mengandung zat antibody terutama pada ASI yang pertama keluar yang disebut colustrum. ASI juga tidak perlu membeli, bias tersedia setiap saat dengan suhu yang sesuai kebutuhan bayi dan banyak lagi manfaat lainnya.
Pemberian Makanan Pendamping ASI juga perlu memperhatikan tingkatan umur bayi, dimana semakin besar umurnya maka kebutuhannya juga akan semakin meningkat. Umumnya makanan pendamping ASI yang dibuat secara rumahan sangat sedikit mengandung mikronutrient yang justru sangat dibutuhkan bayi untuk tumbuh dan berkembang terutama untuk perkembangan kecerdasannya. Pemberian nasi papah jelas sangat kurang dari asfek pemenuhan kebutuhan gizi tersebut, dimana biasanya yang dipapah hanya makanan sumber karbohidrat saja seperti beras dan sangat jarang ditambahkan makanan yang lain baik makanan sumber protein maupun vitamin dan mineral. Sehingga akan sulit memenuhi kebutuhan zat gizi bayi. Nasi papah juga dapat menjadi media penyebaran penyakit antara si ibu dengan bayi, dimana jika seorang ibu menderita penyakit-penyakit infeksi menular tertentu yang berhubungan dengan gigi dan mulut serta pernapasan maka akan sangat mudah untuk ditularkan pada bayinya. Misalnya Tuberculosis. Dari segi kebersihan dan keamanan pangan nasi papah masih perlu dipertanyakan juga, karena anak bisa tertular penyakit yang diderita ibu melalui air liur, sedangkan dari segi kuantitas dan kualitas nilai gizi jelas merugikan bayi, karena ibu-ibu akan mendapatkan sari makanan sedangkan bayinya akan mendapatkan ampasnya.
Walaupun pada masyarakat tradisional pemberian ASI bukan merupakan permasalahan yang besar karena pada umumnya ibu memberikan bayinya ASI, namun yang menjadi permasalahan adalah pola pemberian ASI yang tidak sesuai dengan konsep medis sehingga menimbulkan dampak negatif pada kesehatan dan pertumbuhan bayi.
·         Kasus 2
Para wisatawan bisa berkeliling menyusuri lorong kecil dari rumah ke rumah untuk melihat hasil tenun sambil melihat rumah adat suku Sasak yang disebut bale tani. Keunikan dari rumah adat suku Sasak adalah lantai yang dibuat dari campuran tanah liat, kotoran kerbau, dan kulit padi. Menurut mereka, campuran tersebut lebih kokoh dibandingkan semen biasa dan memiliki arti tersendiri. Tanah menggambarkan dari mana manusia berasal. Sedangkan kotoran kerbau menggambarkan kehidupan mereka sebagai petani yang sangat memerlukan kerbau untuk membajak sawah.
Masyarakat Sasak di Dusun Sade masih menggunakan bangunan asli dari jaman dahulu, meski sekitar Desa Sade sudah termasuk modern. Atap bangunan menggunakan ilalang yang telah disusun sedemikian rupa. Sehingga meski hujan lebat air tetap tidak bisa masuk ke dalam rumah. Ruangan di dalamrumah adat Sasak sendiri dipisahkan oleh 2 – 3 anak tangga yang menghubungkan ruangan bagian depan dan belakang. Hanya ada satu pintu unuk masuk dan keluar, rumah tersebut juga tidak memiliki jendela. Lantai berupa tanah liat, sebagian memang sudah menggunakan semen. Lantai tanah liat dalam beberapa waktu sekali di pel menggunakan kotoran kerbau. Selain itu, mereka tidur tidak menggunakan ranjang, tetapi tidur di lantai hanya dengan dilapisi tikar yang terbuat dari bambu.
Terkait budaya Masyarakat Suku Sasak yang melapisi rumah mereka dengan kotoran sapi dan kerbau, maka secara tidak langsung penyakit yang mungkin timbul dari kebiasaan ini antara lain, diare, cacingan, gatal – gatal, sesak napas, keracunan yang diakibatkan dari gas metana yang dihasilkan oleh kotoran sapi dan kerbau. Seperti yang kita ketahui, kotoran hewan, khususnya sapi dan kerbau mengandung cacing pita (taenia solium dan taenia saginata) sehingga tidak menutup kemungkinan masyarakat tersebut menderita penyakit cacingan.
BAB IV
KESIMPULAN
Budaya merupakan salah satu dari perwujudan atau bentuk interaksi yang nyata sebagai manusia yang bersifat sosial. Budaya yang berupa norma , adat istiadat menjadi acuan perilaku manusia dalam kehidupan dengan yang lain . Pola kehidupan yang berlangsung lama dalam suatu tempat , selalu diulangi , membuat manusia terikat dalam proses yang dijalaninya . Keberlangsungaan terus – menerus dan lama merupakan proses internalisasi dari suatu nilai – nilai yang mempengaruhi pembentukan karakter , pola pikir , pola interaksi perilaku yang kesemuanya itu akan mempunyai pengaruh pada pendekatan intervensi keperawatan (cultural nursing approach).
Budaya suku sasak yang berkaitan dengan kesehatan yang pertama adalah budaya pemberian nasi papah pada bayi setelah dilahirkan padahal bayi hanya boleh mengonsumsi ASI dari ibunya selama dua tahun dan mendapat makanan dalam bentuk pandat saat usia empat tahun. Selain itu, dari segi kesehatan nasi papah tidak sehat untuk bayi karena bisa sebagai media penyebaran penyakit antara si ibu dengan bayi, dimana jika seorang ibu menderita penyakit-penyakit infeksi menular tertentu yang berhubungan dengan gigi dan mulut serta pernapasan maka akan sangat mudah untuk ditularkan pada bayinya.
Yang kedua, penggunaan kotoran kerbau pada lantai rumah. Terkait budaya Masyarakat Suku Sasak yang melapisi rumah mereka dengan kotoran sapi dan kerbau, maka secara tidak langsung penyakit yang mungkin timbul dari kebiasaan ini antara lain, diare, cacingan, gatal – gatal, sesak napas, keracunan yang diakibatkan dari gas metana yang dihasilkan oleh kotoran sapi dan kerbau. Seperti yang kita ketahui, kotoran hewan, khususnya sapi dan kerbau mengandung cacing pita (taenia solium dan taenia saginata) sehingga tidak menutup kemungkinan masyarakat tersebut menderita penyakit cacingan.
DAFTAR PUSTAKA
Artikel kesehatan. 2010. Nasi Papah: Antara Budaya dan Kesehatan.Availlable: http://www.artikel.kesehatan.com.nasi-papah-antara-budaya-dan-kesehatan-artikel.html. (accessed: 23 Maret 2012)
Leonal. 2010. Suku Sasak. Availlable: http://www.leolenal.com.Leoneal » Suku Sasak ( Tugas ke-2).html. (accessed: 23 Maret 2012)
Wilawan, Marko. 2009. Kebudayaan Suku Sasak. Availlable: http://www.markowilawan.blogspot.com.kebudayaan-suku-sasak.html. (accessed: 24 Maret 2012)
Google. 2012. Sade Desa Adat Suku Sasak Lombok. Availlable: http://www.google.com.sade-desa-adat-suku-sasak-lombok.html. (accessed: 25 Maret 2012)
Sasake, Anwar. 2010. Makanan Dalam Konsep Budaya Suku Sasak. Availlable: http://www.anwar.sasake.wordpress.com.Makanan Dalam Konsep Budaya Sasak _ anwarsasake.html. (accessed: 24 Maret 2012)
Jejak Si Gundul. 2011. Tradisi Suku Sasak. Availlable: http://www.jejaksigundul.com.Eps 75. Tradisi Suku Sasak « Jejak Si Gundul.html. (accessed: 25 Maret 2012)
About these ads

Penulis: semaraputraadjoezt

I am Nurse

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.