ASUHAN KEPERAWATAN HERNIA NUCLEUS PULPOSUS (HNP)

Juniartha Semara Putra

ASUHAN KEPERAWATAN HERNIA NUCLEUS PULPOSUS (HNP)
BAB  I
PENDAHULUAN
1.1        Latar Belakang
Begitu banyak penyakit yang ada di masyarakat saat ini.  Kadangkala berakhir buruk pada orang tersebut.  Beberapa faktor yang menyebabkan yaitu kurangnya pengetahuan tentang penyakit tersebut, tidak peduli dengan anggapan nantinya akan sembuh sendiri dan minimnya perekonomian masyarakat.
Salah satu penyakit yang cukup sering ada pada masyarakat dengan “syaraf  terjepit” yang dalam istilah medis disebut Hernia Nucleus Pulposus.  Salah satu gejalanya yaitu nyeri hebat yang menjalar dari punggung sampai kaki.  Mungkin disebabkan orang tersebut setelah mengangkat beban berat.  Komplikasi dari penyakit ini cukup berbahaya yaitu gangguan pada saluran pernafasan dan juga pencernaan.
1.2        Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini terbagi menjadi:
1.2.1        Secara Umum
Untuk memperoleh gambaran umum tentang penyakit Hernia Nucleus Pulposus (HNP) meliputi tanda dan gejala, serta komplikasinya terhadap fungsi organ tubuh yang lain
1.2.2        Secara Khusus
Mahasiswa mampu:
a.       Memahami konsep dasar anatomi dan fisiologi sistem Vertebrae
b.      Memahami konsep dasar penyakit Hernia Nuclues Pulposus secara teoritis.
c.       Menentukan diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan penyakit Hernia Nucleus Pulposus (HNP)
1.3        Ruang Lingkup
Dalam penulisan makalah ini, kami hanya membahas tentang penyakit Hernia Nucleus Pulposus (HNP) saja.
1.4        Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, kami menggunakan metode deskriptif yaitu dengan mencari sumber buku (literatur) dan juga sumber lain (internet) yang ada sebagai pedoman.
1.5        Sistematika Penulisan
Makalah ini terbagi menjadi 4 Bab, yaitu:
BAB  I         PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
1.2    Tujuan Penulisan
1.3    Ruang Lingkup
1.4    Metode Penulisan
1.5    Sistematika Penulisan
BAB  II        TINJAUAN TEORITIS
2.1    Anatomi dan Fisiologi Vertebrae
2.2    Definisi Hernia Nukleus Pulposus
2.3    Klasifikasi Hernia Diskus Vertebra
2.4    Etiologi
2.5    Patofisiologi
2.6    Manifestasi klinis
2.7    Penatalaksanaan
2.8    Pemeriksaan Diagnostik
2.9    Komplikasi
BAB  III      ASKEP TEORITIS HERNIA DISKUS INTERVERTEBRALIS
BAB  IV      PENUTUP
4.1    Kesimpulan
4.2    Saran
DAFTAR PUSTAKA


BAB  II
TINJAUAN TEORITIS
2.1        Anatomi dan Fisiologi Vertebrae
Tulang vertebrae terdri dari 33 tulang : 7 buah tulang servikal, 12 buah tulang torakal, 5 buah tulang lumbal, 5 buah tulang sacral. Tulang servikal, torakal dan lumbal masih tetap dibedakan sampai usia berapapun, tetapi tulang sacral dan koksigeus satu sama lain menyatu membentuk dua tulang yaitu tulang sakum dan koksigeus. Diskus intervertebrale merupkan penghubung antara dua korpus vertebrae. Sistem otot ligamentum membentuk jajaran barisan (aligment) tulang belakang dan memungkinkan mobilitas vertebrae. (CAILLIET 1981).
Fungsi kolumna vertebralis adalah menopang tubuh manusia dalam posisi tegak, yang secara mekanik sebenarnya melawan pengaruh gaya gravitasi agar tubuh secara seimbang tetap tegak. (CAILLIET 1981).
Vertebra servikal, torakal, lumbal bila diperhatikan satu dengan yang lainnya ada perbedaan dalam ukuran dan bentuk, tetapi bila ditinjau lebih lanjut tulang tersebut mempunyai bentuk yang sama. Korpus vertebrae merupakan struktur yang terbesar karena mengingat fungsinya sebagai penyangga berat badan. Prosesus transverses terletak pada ke dua sisi korpus vertebra, merupakan tempat melekatnya otot-otot punggung. Sedikit ke arah atas dan bawah dari prosesus transverses terdapat fasies artikularis vertebrae dengan vertebrae yang lainnya. Arah permukaan facet join mencegah/membatasi gerakan yang berlawanan arah dengan permukaan facet join. Pada daerah lumbal facet etak pada bidang vertical sagital memungkinkan gerakan fleksi dan ekstensi ke arah anterior dan posterior. Pada sikap lordosis lumbalis (hiperekstensi lubal) kedua facet saling mendekat sehingga gerakan kalateral, obique dan berputar terhambat, tetapi pada posisi sedikit fleksi kedepan (lordosis dikurangi) kedua facet saling menjauh sehingga memungkinkan gerakan ke lateral berputar. (lihat gambar 1 dan 2).
Gambar 1. Arah pergerakan vertebrae ditentukan oleh arah facet-facetnya A= Thoracics facets, B= Lumbar facets. + = gerakan dimungkinkan , – = gerakan dihambat. (CAILLIET 1981).
Bagian lain dari vertebrae, adalah “lamina” dan “predikel” yang membentuk arkus tulang vertebra, yang berfungsi melindungi foramen spinalis. Prosesus spinosus merupakan bagian posterior dan vertebra yang bila diraba terasa sebagai tonjolan, berfungsi tempat melekatnya otot-otot punggung. Diantara dua buah buah tulang vertebrae terdapat ntervertebralis yang berfungsi sebagai bentalan atau “shock absorbers” bila vertebra bergerak.

Gambar3. Posisi kolumna vertebralis saat melakukan gerakan sederhana. A=pada saat beristirahat, B=pada saat kolumna teregang, C=pada saat kolumna terkompresi. D=saatekstensi, tulang vertebra di atas bergerak ke arah posterior, sehingga nucleus terdorong ke anterior. E= pada saat fleksi, tulang vertebrae di atas bergerak ke anterior, sehingga nucleus bergerak ke posterior. F= pada saat laterofleksi. G= pada saat terdapat tekanan oblique pada kolumna. H= pada saat rotasi aksial. Pada gerakan ini sering merobekkan annulus dan, diskus keluar ke posterior melalui robekan annulus. (KAPANDJI 1974)
Diskus intervertebralis terdiri dari annulus fibrosus yaitu masa fibroelastik yang membungkus nucleus pulposus, suatu cairan gel kolloid yang mengandung mukopolisakarida. Fungsi mekanik diskus intervertebralis mirip dengan balon yang diisi air yang diletakkan diantara ke dua telapak tangan . Bila suatu tekanan kompresi yang merata bekerja pada vertebrae maka tekanan itu akan disalurkan secara merata ke seluruh diskus intervertebralis. Bila suatu gaya bekerja pada satu sisi yang lain, nucleus polposus akan melawan gaya tersebut secara lebih dominan pada sudut sisi lain yang berlawanan. Keadaan ini terjadi pada berbagai macam gerakan vertebra seperti fleksi, ekstensi, laterofleksi (CAILLIET 1981) (lihat  gambar 3).
Karena proses penuaan pada diskus intervebralis, maka kadar cairan dan elastisitas diskus akan menurun. Keadaan ini mengakibatkan ruang diskus intervebralis makin menyempit, “facet join” makin merapat, kemampuan kerja diskus menjadi makin buruk, annulus menjadi lebih rapuh.

Gambar 4. Ligamentum longitudinale posterior mulai menyempit setinggi L1 sampai setinggi L5. Pada L5 lebarnya hanya setengah lebar diskus, sehingga hemiasi diskus biasa terjadi di kiri-kanannya (CAILLIET 1981)
Akibat proses penuaan ini mengakibatkan seorang individu menjadi rentan mengidap nyeri punggung bawah. Gaya yang bekerja pada diskus intervebralis akan makin bertambah setiap individu tersebut melakukan gerakan membungkuk, gerakan yang berulang-ulang setiap hari yang hanya bekerja pada satu sisi diskus intervebralis, akan menimbulkan robekan kecil pada annulus fibrosus, tanpa rasa nyeri dan tanpa gejala prodromal. Keadaan demikian merupakan “locus minoris resistensi” atau titik lemah untuk terjadinya HNP (Hernia Nukleus Pulposus). Sebagai contoh, dengan gerakan yang sederhana seperti membungkuk memungut surat kabar di lantai dapat menimbulkan herniasi diskus. Ligamentum spinalis berjalan longitudinal sepanjang tulang vertebrae. Ligamentum ini berfungsi membatasi gerak pada arah tertentu dan mencegah robekan. (CAILLIET 1981)
Diskus intervebralis dikelilingi oleh ligamentum anterior dan ligamnetum posterior. Ligamentum longitudinal anterior berjalan di bagian anterior corpus vertebrae, besar dan kuat, berfungsi sebagai alat pelengkap penguat antara vertebrae yang satu dengan yang lainnya. ligamentum longitudinal posterior berjalan di bagian posterior corpus vertebrae, yang juga turut memebntuk permukaan anterior kanalis spinalis. Ligamentum tersebut melekat sepanjang kolumna vertebralis, sampai di daerah lumbal yaitu setinggi L 1, secara progresif mengecil, maka ketika mencapai L 5 – sacrum ligamentum tersebut tinggal sebagian lebarnya, yang secara fungsional potensiil mengalami kerusakan. Ligamentum yang mengecil ini secara fisiologis merupakan titik lemah dimana gaya statistik bekerja dan dimana gerakan spinal yang terbesar terjadi, disitulah mudah terjadi cidera kinetik. (CAILLIET 1981) (lihat gambar 4).
Otot punggung bawah dikelompokkan kesesuai dengan fungsi gerakannya. Otot yang berfungsi mempertahankan posisi tubuh tetap tegak dan secara aktif mengekstensikan vertebrae lumbalis adalah : M. quadraus lumborum, M. sacrospinalis, M. intertransversarii dan M. interspinalis.  Otot fleksor lumbalis adalah muskulus abdominalis mencakup : M. obliqus eksternus abdominis, M. internus abdominis, M. transversalis abdominis dan M. rectus abdominis, M. psoas mayor dan M. psoas minor.  Otot latero fleksi lumbalis adalah M. quadratus lumborum, M. psoas mayor dan minor, kelompok M. abdominis dan M. intertransversarii.
Jadi dengan melihat fungsi otot di atas otot punggung di bawah berfungsi menggerakkan punggung bawah dan membantu mempertahankan posisi tubuh berdiri.  Medulla spinalis dilindungi oleh vertebrae. Radix saraf keluar melalui canalis spinalis, menyilang discus intervertebralis di atas foramen intervertebralis.
2.2        Definisi Hernia Nukleus Pulposus
1.      HNP (Hernia Nukleus Pulposus) yaitu:  nukleus pulposus suatu zat yang berada di antara ruas-ruas tulang belakang, ke arah belakang baik lurus maupun ke arah kanan atau kiri yang akan menekan sumsum tulang belakang atau serabut-serabut sarafnya dengan mengakibatkan terjadinya rasa sakit yang sangat hebat (www.google.co.id)
2.      Hernia Diskus (cakram) Intervertebralis (HNP) merupakan penyebab utama nyeri punggung bawah yang berat, kronik dan berulang (kambuh).  Hernia dapat parsial atau komplit, dari massa nukleus pada daerah vertebrae L4-L5, L5-S1 atau C5-C6, C6-C7 adalah paling banyak terjadi dan mungkin sebagai dampak trauma atau perubahan degeneratif yang berhubungan dengan proses penuaan.
2.3        Klasifikasi Hernia Diskus Intervertebralis
1.      Hernia Diskus Intervertebra Servikalis
Biasanya terjadi antar ruang C5-C6 dan C6-C7 (sekitar 10%).  Nyeri dan kekakuan dapat terjadi pada leher, bagian atas pundak dan daerah skapula.  Kadang-kadang px menginterpretasikan tanda ini sebagai gejala masalah jantung atau bursitis.  Nyeri dapat juga disertai dengan parestesia dan ketas pada ekstremitas atas.
2.      Hernia Diskus Lumbal
Banyak terjadi pada L4-L5 atau ruang antara L5-S1 (70-90%).  Hernia diskus lumbal menimbulkan nyeri punggung bawah disertai berbagai derajat gangguan sensori dan motorik.  Px mengeluh nyeri punggung bawah dengan spare otot yang diikuti dengan penyebaran nyeri ke dalam satu pinggul dan turun ke arah kaki (skiatika).  Nyeri diperberat oleh kegiatan yang menaikkan tekanan cairan intraspinal (membengkok, mengangkat/mengejan (batuk dan bersin), dan biasanya berkurang dengan tirah baring.  Jika px dibaringkan terlentang dan diusahakan unguk meninggikan satu kaki dengan posisi lurus, maka nyeri menyebar ke arah kaki.  Karena gerakan yang dilakukan menegangkan saraf skiatik.  Tanda tambahan mencakup kelemahan otot, perubahan reflek rendah, dan kehilangan sensori.
2.4        Etiologi
1.      Ruda paksa (trauma/kecelakaan)
Yang mana terdorongnya nukleus pulposus, suatu zat yang berada di antara ruas tulang belakang, ke arah belakang baik lurus maupun ke arah kanan atau kiri yang akan menekan sumsum tulang belakang atau serabut-serabut sarafnya yang menimbulkan rasa sakit yang sangat hebat.
2.      Proses penuaan
Karena proses penuaan pada diskus intervertebralis, maka kadar cairan dan elastisitas diskus akan menurun. Keadaan ini mengakibatkan ruang diskus intervertebralis makin menyempit, facet joint merapat. Kemampuan kerja diskus menjadi makin buruk, anulus menjadi lebih rapuh.
3.      Mengangkat beban berat
Pengangkatan beban yang berat pada posisi yang tidak benar akan menyebabkan hernia nukleus pulposus terjadi pada berbagai arah :
a.       Bila menjebolnya nukleus ke arah anterior, hal ini tidak mengakibatkannya munculnya gejala yang berat kecuali nyeri.
b.      Bila menjebolnya nukleus ke arah anterior medial maka dapat menimbulkan penekanan medulla spinalis dengan akibatnya gangguan fungsi motorik maupun sensorik pada ektremitas, begitu pula gangguan miksi dan defekasi.
c.       Bila menonjolnya ke arah lateral atau dorsal lateral, maka hal ini dapat menyebabkan tertekannya radiks saraf tepi yang keluar dari sana dan menyebabkan gejala neuralgia radikuler.
d.      Kadangkala protrusi nukleus terjadi ke atas atau ke bawah masuk ke dalam korpus vetrebal dan disebut dengan nodus Schmorl.
4.      Stres mental
Suatu keadaan kejiwaan yang menyebabkan pasien tidak merasa tertekan.
5.      Sebab lain :
        Tumor
        Infeksi
        Batu ginjal


2.5        Patofisiologi Hernia Nukleus Pulposus
<!–[if gte vml 1]>

Pemisahan lempeng tulang rawan dari columna vertebralis yang berdekatan

Robeknya serabut anulus fibroisus

Keluarnya nukleus pulposus

Hernia diskus

Hernia diskus Lumbal 

Hernia diskus Servikal  

Posterolateral 

Hernia diskus L5 – S1 

Hernia diskus L4 – L5   

Menekan radiks saraf  L5   

Menekan radiks saraf  S1   

Gangguan fungsi motorik    

Nervus iskhiadikus    

Iskhialgia  

Hernia diskus C5 – C6 

Lateral 

Dorsomedial  

Hernia diskus C6 – C7 

Menekan radiks saraf C6 

Menekan radiks saraf C7 

Nyeri, gangguan sensorik dan motorik pada lengan     

Menekan Medulla Spinalis 

Paresis pada kedua kedua tungkai

Diskus intervertebralis

<![endif]–>

ETIOLOGI (Kompresi berulang)

 

 


2.6        Manifestasi Klinis
1.      Kompresi Radiks L3
a.       Daerah nyeri dan hipestasi samping panggul dan bagian depan paha
b.      Kelemahan kuadriseps femoris
c.       Refleks tendon patella (RTP) menurun
2.      Kompresi Radiks L4
a.       Daerah nyeri dan hipestasi samping panggul dan bagian depan paha
b.      Kelemahan kuadriseps femoris
c.       Refleks tendon patella (RTP) menurun
d.      Tanda lasseque positif pada 50% penderita
3.      Kompresi Radiks L5
a.       Daerah nyeri/hipestasi sepanjang samping tungkai sampai ibu jari kaki
b.      Otot ekstensi/fleksi ibu jari kaki melemah
c.       Tanda lasseque positif
4.      Kompresi Radiks S1
a.       Daerah nyeri/hipestasi sepanjang samping tungkai sampai ibu jari kaki
b.      Refleks tendon patella (RTP) menurun
c.       Tanda lasseque positif
2.7        Penatalaksanaan
a.      Hernia Nukleus Pulposus
Penanganan HNP dapat dilakukan dalam beberapa langkah penatalaksanaan di antaranya adalah:
1.      Perawatan konservatif non-farmakologis
2.      Bed rest mutlak di tempat tidur yang padat dengan posisi yang relaks, lutut agak ditekuk dan di bawah pinggang untuk HNP lumbalis selama 2-3 minggu tergantung keparahannya sedangkan pada HNP servikalsi dipakai bantal yang “comfort” untuk mengurangi strain dari otot leher
3.      Aplikasi pemanasan di area yang nyeri/sakit
4.      Traksi tidak banyak membantu kecuali pasien menjadi lebih patuh di tempat tidur
5.      Bila nyeri sudah berkurang dapat dilakukan latihan secara bertahap
6.      Pada mobilisasi diperlukan korset lumbal dan servikal
7.      Berenang baik untuk pasca-HNP lumbalis namun tidak baik untuk HNP servikal
8.      Perawatan koservatif farmakolig
9.      Pemberian obat analgesik
10.  Obat-obatan NSAID
11.  Obat-obatan pelemas otot (muscle relasant)
12.  Penenang minor atau major bila diperlukan (arsep p)
          Pembedahan Diskus
Indikasi yang dilakukan pembedahan apabila terjadi defisit neurologic (kelemahan dan atrafi otot, kehilangan fungsi motorik dan sensorik, kehilangan kontrol spingter), dan nyeri yang terus menerus dan skiatika yang tidak berespon terhadap penatalaksanaan konservatif.  Tujuan tindakan pembedahan adalah mengurangi tekanan pada radiks saraf untuk mengurangi nyeri dan mengubah defisit
          Disektomi
Mengangkat fragmen herniasi atau yang keluar dari diskus intervertebralis
          Laminektomi
Mengangkat lamina untuk memajankan elemen neural pada kanalis spindis, memungkinkan untuk menginspeksi kanalis spinalis, mengangkat patologi dan menghilangkan kompresi medulla dan radiks
          Laminatomi
Pembagian lamina vertebra
          Disektomi dengan pelebaran dari krista iliaka yang digunakan untuk menyatukan dengan prosesus spinosus vertebra
b.  Hernia Diskus Intervertebra Servikalis
Tujuan tindakan:
          Untuk mengistirahatkan dan imobilisasi spinal servikal untuk memberikan kesempatan jaringan lunak untuk sembuh
          Untuk menurunkan radang pada jaringan yang membantu dan radiks saraf yang terkena di dalam spinal servikal
Imobilisasi/Tirah Baring
Spinal servikal dapat diistirahatkan menggunakan kolar servikal, traksi servikal atau brace. Kolar memungkinkan pembukaan fonamina intervertebra maksimal dan menahan kepala dalam posisi fleksi atau netral.
Traksi
Kepala pada tempat tidur ditinggikan untuk memberikan keadaan netral.  Tindakan ini meningkatkan pemisahan vertebral dan juga mengurangi tekanan pada radiks saraf.
Meredakan nyeri
          Kompres lembab panas (10-20 menit)
Pada daerah belakang leher untuk menaikan aliran darah ke otak dan menolong relaksasi otot dengan baik jika terdapat spasme otot.
          Analgetik
Diberikan pada fase akut untuk mengurangi nyeri
          Sedatif
Untuk mengontrol kecemasan yang sering ditimbulkan oleh penyakit diskus vert-serv
          Relaksan otot
Untuk menghentikan siklus spaspe otot dan menaikan kenyamanan pasien
          Obat anti-inflamasi (aspirin, fenilbutazon, kortikosteroid)
Untuk mengatasi proses inflamasi yang biasanya terjadi pada jaringan penyokong dan radiks saraf yang terkena.
          Agens anti-inflamasi diberikan dengan makanan dan antioksidan
Untuk mencegah iritasi gastrointestinal
Tindakan Pembedahan
Diperlulan bila ada bukti kompresi medula, nyeri yang memburuk dan progresi defisit neurologik.
          Insisi transversal di leher
Untuk mengangkat material yang telah megalami herniasi ke dalam kanalis spinaus dan foramina
          Bedah mikro
MLL insisi kecil dan menggunakan teknik magnifikasi
c.   Hernia Diskus Lumbal
Tujuan tindakan:
          Mengurangi nyeri
          Memperlambat perkembangan penyakit
          Meningkatkan kemampuan fungsi bagi pasien
§  Tirah baring dengan kasur yang keras (untuk membatasi flesksi spinal)
Untuk mengurangi beban berat dan kekuatan gravitasi sehingga membebaskan diskus dari stres
§  Posisi semi-fowter dengan fleksi sedang panggul dan lutut untuk merileksasikan otot punggung.
§  Relaksan otot
§  Agens anti-inflamasi kadang di dalam jaringan penyokong dan akar saraf yang terkena
§  Kompres lembab hangat dan masase
Untuk membantu otot-otot yang kaku menjadi rileks dan menghasilkan pengaruh sedatif pada pasien.
Tindakan Pembedahan:
          Laminotomi
          Mikrodisektomi
Menggabungkan penggunaan operasi dengan mikroskop untuk melihat potongan yang mengganggu dan menekan akar saraf
          Disektomi perkutaneus
Merupakan pengobatan alternatif pada herniasi potongan intervertebral pada spinal lumbal tingkat L4-L5.
2.8        Pemeriksaan Diagnostik
          MRI
Untuk melokalisasi protusi diskus
          CT Scan
          Mielogram
          Pemeriksaan Neurologik
Untuk menentukan jika ada kerusakan refleks, sensori, motorik karena kompresi radiks
          EMG (elektromiografi)
Untuk melokalisasi radiks saraf spinal khusus yang terkena
2.9        Komplikasi
Komplikasi pasca operasi
§  Komplikasi potensial untuk pendekatan anterior
          Cedera arteri karotid atau a vertebral
          Disfungsi saraf laringeus berulang
          Perforasi esofagus
          Obstruksi jalan nafas
§  Komplikasi pendekatan posterior
          Retraksi/kontusio salah satu struktur
          Kelemahan otot-otot yang dipersyarafi radiks saraf atau medula
§  Komplikasi bedah diskus
          Terjadi pengulangan herniasi pada tempat yang sama atau tempat lain
          Radang pada mebran arachnoid
          Rasa nyeri seperti terbakar pada derah belakang bagian bawah yang menyebar  ke daerah bokong
          Sayatan pada potonan dapat meninggalkan perlekatan dan jaringan parut di sekitar saraf spinal dan dura, yang akibat radang dapat menyebabkabn neurotik kronik atau neurofibrosis
          Cedera syaraf dan jaringan
          Sindrom diskus gagal (pegal berulang pada pinggul setelah disektomi lumbal) dapat menetap dan biasanya menyebabkan ketidakmampuan


BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
HERNIA DISKUS INTERVERTEBRALIS
A   Data Dasar  pengkajian
  1. Aktivitas/istirahat
Gejala :
§  Riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat benda berat, duduk, mengemuai dalam waktu lama
§  Membutuhkan papan/matras yang keras saat tidur
§  Penurunan rentang gerak dari ekstrimitas pada salah satu bagian tubuh
§  Tidak mampu melakukan aktivitas yang biasa dilakukan
Tanda :
§  Atrovi otot pada bagian tubuh yang terkena
§  Gangguan dalam perjalanan
  1. Eliminasi
Gejala :
§  Konstipasi, mengalami kesulitan dalam devekasi
§  Adanya inkontenensia atau retensi urin
  1. Neurosensori
Gejala :
§  Kesemutan, kekakuan, kelemahan dari tangan dan kaki
Tanda :
§  Penurunan reflek tendon atau kekakuan otot, hipotonia. Nyeri tekan atau spasme otot paravetebralis, penurunan persepsi nyeri (sensori)
  1. Integritas ego
Gejala :
§  Ketakutan akan menimbulkan paralysis ansientas masalah pekerjaan, financial keluarga
Tanda :
§  Tampak jelas kecemasan, depresi, menghindar dari keluarga atau orang terdekat
  1. Nyeri/kenyamanan
Gejala :
§  Nyeri seperti tertusuk pisau yang akan semakin memburuk dengan adanya batuk, bersin, membengkokkan badan, mengangkat, defekasi/fleksi leher
§  Nyeri yang menjalar kekaki, bokong (lumbal)/bahu/lengan:kaku pada leher (servikal)
§  Terdengar suara ‘krek’ saat nyeri baru timbul/saat trauma atau merasa “punggung patah” keterbatasan untuk mobilisasi atau punggung kedepan
Tanda :
§  Perubahan cara berjalan, berjalan dengan terpincang pincang
§  Pinggang terangkat pada bagian tubuh yang terkena
§  Nyeri saat palpasi
  1. Keamanan
Gejala :
§  Adanya riwayat masalah “punggung” yang baru saja terjadi
B. Diagnosa keperawatan
  1. Nyeri akut atau kronis berhubungan dengan agen pencederaan fisik (kompresi saraf, spasme otot).
  2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dan ketidak nyamanan, spasme otot.
  3. Ansietas berhubungan dengan gangguan ber ulang dengan nyeri terus menerus.
  4. Kurangnya pengetahuan mengenai proses penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi.
C. Tujuan dan kriteria hasil, intervensi dan rasional
Diagnosa 1
  • Tujuan dan criteria hasil
v  Melaporkan nyeri hilang atau terkontol
v  Menetapkan metode yang memberikan penghilang
v  Mendemonstrasikan penggunaan intervene therapeutic untk menghilangkan nyeri
  • Tindakan / intervensi
v  Kaji adanya keluhan nyeri, catat lokasi, lamanya serangan, factor pencetus yang memperberat
Rasional:   Membantu menentukan pilihan intervensi dan memberikan dasar dasar untuk perbandingan dan evaluasi terhadap therapy
v  Pertahankan tirah baring selama fase akut
Rasional:   Tirah barin dalam posisi yang nyaman memungkinkan pasien untuk menurunkan spasme otot dan memfasilitast terjadinya reduksi dan tonjola diskus
v  Gunakan logroll (papa) selama melakukan perubahan posisi
Rasional: Menurunkan fleksi, perputaran, desakan pada daerah belakang tubuh
v  Anjurkan pasien untuk melakukan teknik relaksasi
Rasional: Memfokuskan perhatian pasien, membantu menurunkan tegangan otot dan meningkatkan proses penyembuhan
v  Anjurkan untuk melakukan mekanika tubuh atau gerakn yang tepat
Rasional: Menghilangkan atau mengurangi stress pada otot dan mencegah trauma lebih lanjut
v  Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat sesuai dengan kebutuhan
Rasional: Untuk menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri pada pasien
Diagnosa 2
  • Tujuan dan criteria hasil
v  Mengungkapkan pemahaman tentang situasi atau factor resiko dan aturan pengobatan individual
v  Mendemonstrasikan teknik perilaku yang mungkin
v  Mempertahankan ataumeningkatkan kekuatan dam fungsi bagian tubuh yang sakit dan atau komponsasi
  • Tindakan / intervensi
v  Anjurkan pasien untuk melatih aki bagian bawah atau lutut
Rasional:   Stimulasi sirkulasi vena pada arus pda arus balik vena menurunkan keadaan vena yang statis dan kemungkinan ternentuknya trombus
v  Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulasi progresif
Rasional:   Keterbatasan aktivitas tergantung pada kondisi yang khusus tetapi biasanya berkembang dengan lambat sesuai toleransi
v  Berikan atau bantupasien untuk melakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif
Rasional: Memperkuat otot abdomen dan fleksor tulang belkang, memperbaiki mekanika tubuh
v  Berikan obat untuk menghillangkan nyeri kira kira tiga puluh menit untuk memindahkan atau melakukan ambulansi pasien
Rasional: Antisipasi terhadap nyeri dapat meningkatkan ketegagan otot
Diagnosa 3
  • Tujuan dan criteria hasil
v  Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang
v  Mengidentifikasi ketidak efektifan prilaku koping dan konsekuensi
v  Mengkaji situasi terbaru dengan akurat
v  Mendemontasikan ketrampilan pemecahan masalah
v  Mengembangkan rencana untuk perubahan gaya hidup yang perlu
  • Tindakan / intervensi
v  Kaji tingkat ansietas pasien
Rasional:   Untuk membantu mengidentivikasi kekuatan dan ketrampilan yang mungkin membntu pasien dalam mengatasi keadaannya
v  Kaji adanya masalah sekunder yang mungkin merintangi keinginan untuk sembuh dan mungkin menghalangi proses pemyembuhan
Rasional:   Pasien mungkin secara tidak sadar memperoleh keuntungan terlepas dari tanggung jawab, perhatian dan kontroldari orang lain
v  Rujuk pada kelompok penyokong yang ada, pelayanan sosilalkonselor financial atau kerja, psikotherapi dansebagainya
Rasional:   Memberikan dukungan untuk beradaptasi dengan perubahan pada memnberikan sumber sumber untuk mengatasi masalah
Diagnosa 4
  • Tujuan dan criteria hasil
v  Mengungkapkan tentang pemahaman tentang kondisi, prognosis dan tindakan
v  Melakukan kembali perubahan gaya hidup
v  Berpartisipsi dalam aturan tindakan
  • Tindakan / intervensi
v  Jelaskan kembali tentang prognosis serta pembatasan penyakit
Rasional:   Dapat meningkatkan kerjasama pasien mengenai program pengobatan dan mendapatkan penyembuhan yang optimal
v  Berikan informasi tentang berbagai hal dan intruksikan unuk melakukan perubahan “mekanika tubuh”
Rasional:   Menurunkan resiko terjadinya trauma berulang dari leher atau punggung dan menggunakan otot otot bokong
v  Anjurkan untuk mengunakan papan atau matras yang kuat
Rasional:   Dapat menurunkan regangan otot melalui dukungan stuktural dan mencegah terdapat hiperekstensi dari tulang belakang
v  Berikan informasi untuk tanda tanda yang perlu dilaporkan
Rasional:   Perkembangan dari proses penyakit mungkin memerlukan tindakan pembedahan atau lebih


BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
            Hernia Nukleus Pulposus merupakan terdorongnya pulposus yaitu suatu zat yang berada di ruas- ruas tulang belakang, ke arah belakang baik lurus maupn ke arah kanan atau kiri yang akan menekan sumsum tulang belakang atau serabut- serabut sarafnya dan mengakibatkan terjadinya rasa sakit yang sangat hebat. HNP ada dua yaitu HNP Lumbal dan Servikal,yang mana kejadian HNP Lumbal merupakan yang paling sering terjadi.HNP dapat menyebabkan komplikasi yang serius yaitu komplikasi pasca operasi yaitu pendekatan anterior dan posterior dan komplikasi bedah diskus.
4.2 Saran
            Bagi para pembaca diharapkan dapat menerapkan tindakan pencegahan terhadap penyakit HNP minimal pada dirinya sendiri serta pada masyarakat pada umumnya.Bagi mahasiswa keperawatan diharapkan agar dapat meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan kliennya. Bagi dunia kesehatan diharapkan makalah ini dapat menambah sumber teoritis dalam menangani penyakt khususnya HNP. 
DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marylin E. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawat dan Pasien, 1999, Jakarta : EGC
Hinchliff, Sue, Kamus Keperawatan Edisi 17, 1999, Jakarta : EGC
Price. Sylvia Anderson, Patofisiologi Konsep Klinis proses Penyakit Buku 2 Edisi 4, 1994, Jakarta : EGC
S Meltzer, Suzane C, Buku Ajara Keperawatan Medikal Bedah Burner & Suddarth, Edisi 8 Vol 2 , 2001, Jakarta : EGC
Soeparman, Waspadji Sarewono, Ilmu Penyakit  Dalam Jilid II, 1990, Jakarta : Balai Penerbit FKUI
http : www. Google.co.id Diakses tanggal 10 November 2006
http : www.medicastore.com Diakses tanggal 9 November 2006
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s